MANAGED BY:
KAMIS
23 NOVEMBER
POLITIK | HUKUM | KRIMINAL | KHAZANAH | DAERAH | SEX & KESEHATAN | HANGOUT | EDUKREATIF

KHAZANAH

Senin, 19 Desember 2016 00:39
Bahaya Lidah dan Dosa yang Disebabkannya (habis)

PROKAL.CO, Jika pada terbitan Sabtu 17 Desember lalu sebelumnya pembahasan mengenai menjaga kebaikan terhadap lidah dan ucapan. Maka kini pembahasan lebih mengarah kepada agar kita tidak sembarang berucap dan lebih baik memilik berdiam jika memang tidak mengetahui apapun atas satu masalah. Sebab tiap kalimat pasti ada hisabnya, satu demi satu harus dipertanggungjawabkan di depan mahkamah Allah SWT.

Diantaranya Nabi bersabda: “Tidak ada suatu anggota badan pun kecuali pasti mengadukan lidah kepada Allah karena saking juteknya lidah manusia. (H.R. Ad-Dar Quthni)”
Berkata sahabat Ibn Mas’ud saat di atas bukit Shofa, “Wahai lidah, katakanlah kebaikan maka kamu akan beruntung karenanya! Dan banyaklah diam dari segala keburukan, maka kamu akan selamat dari kejahatannya dan lakukanlah sebelum datang penyesalan pada akhirnya.” Maka seseorang berkata kepadanya setelah mendengar perkataannya, “Wahai Abu Abdurrohman, apakah perkataan itu berasal darimu atau sesuatu yang pernah engkau dengarkan?” Maka dia berkata, “Tidak bukan perkataanku akan tetapi sesuatu yang pernah aku dengar dari Rasulullah dan beliau bersabda: Sesungguhnya paling banyaknya dosa bani Adam itu berasal pada lidahnya.” (H.R. Thobroni)

Nabi juga pernah bersabda: Barangsiapa beriman dengan Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata kebaikan atau diam. (Muttafaq alaih). Berkata sahabat Abdullah Ibn Mas’ud: Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, tidak ada sesuatu yang berhak untuk ditahan melebihi daripada lidah manusia.

Kemudian, At-Thowus pernah berkata: “Lidahku ini bagaikan binatang buas. Jika aku lepaskan, maka dia akan menerkamku.” Begitu pula Imam Hasan Al-Basri: “Tidaklah dianggap seseorang cerdik dalam syariat islamnya kalau dia tidak menjaga lidahnya.” Berkata pula Muhammad bin Wasi’ kepada Malik bin Dinar: “Wahai Abu Yahya, ketahuilah bahwasanya menjaga lidah itu lebih sulit daripada menjaga dinar dan dirham.”

Suatu waktu berkumpul segerombolan orang di depan Mu’awiyah dan mereka sedang berbincang dan berdiskusi. Diantara mereka terdapat Ahnaf bin Qays. Hanya dia saja yang diam dan tidak berbicara. Maka Mu’awiyah berkata kepadanya, “Wahai Abu Bahr. Kenapa engkau tidak berbicara?” Maka dia menjawab, “Aku takut kepada Allah jika berbohong dan aku takut kepadamu jika aku jujur.”

Diriwayatkan pernah suatu waktu, empat raja berkumpul dan berdiskusi diantara mereka. Yaitu raja India, raja China, raja Kisra dan raja Kaisar. Berkata salah satu dari mereka yang berdiskusi tentang bahayanya ucapan, “Aku menyesal ketika aku berbicara. Dan aku tidak pernah menyesal terhadap apa yang belum aku ucapkan.” Berkata raja kedua, “Jika aku telah mengucapkan suatu ucapan, maka dia telah menguasai aku dan aku tidak dapat menguasainya. Namun jika aku belum mengucapkan suatu ucapan, maka aku mampu mengusainya dan dia tidak dapat menguasaiku.”
Berkata raja yang ketiga, “Aku heran kepada orang yang banyak bicara dimana jika ucapannya itu kembali kepadanya, maka pasti akan membahayakannya karena ucapan yang telah menyinggung orang lain. Sedangkan jika tidak kembali lagi kepadanya, maka sama sekali tidak akan bermanfaat baginya.” Berkata raja keempat, “Mengulangi lagi ucapan yang tidak aku ucapkan lebih mudah bagiku daripada menarik kembali apa yang terlanjur aku ucapkan.”

Diriwayatkan bahwasanya Robi’ bin Khoitsam tidak pernah berbicara masalah dunia selama 20 tahun. Dan setiap hari selama 20 tahun itu dia membawa kertas. Apapun yang dia ucapkan, dia akan menulisnya di atas kertas. Dan pada malam harinya dia evaluasi apa saja yang tertulis dari ucapannya itu.

Kesimpulannya, alangkah besarnya keutamaan orang yang diam dan tidak banyak berbicara. Yang demikian itu disebabkan banyaknya kesalahan lidah ketika berbicara. Baik itu kesalahan karena melukai perasaan orang lain, berbohong, berghibah, mengadu domba, riya’, kenifakan, berkata dengan perkataan yang keji, melakukan sebuah perdebatan yang akan menyebabkan permusuhan dan perselisihan maupun bahaya-bahaya Lidah lainnya. (hfz)


BACA JUGA

Senin, 26 Desember 2016 20:52

Merelakan Utang

Saya sering meminjamkan uang atau barang kepada teman. Namun saat dikembalikan tidak pernah utuh. Karena…

Sabtu, 24 Desember 2016 00:24

Bawahan Bukan untuk Direndahkan

Saudara pembaca yang dirahmati Allah SWT. Karena kita masih berada pada bulan bulan maulid, maka …

Kamis, 22 Desember 2016 22:09

Nikah Siri Tetap Pakai Saksi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhSelamat pagi ustad, saya mau tanya tentang hukum nikah siri,…

Rabu, 21 Desember 2016 00:31

Rum di Dalam Black Forest

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Guru saya ini pembuat kue black forest. Nah sekarang…

Selasa, 20 Desember 2016 00:13

Bolehkah Percaya Dukun dan Peramal?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Saat ini banyak orang percaya ramalan nasib seseorang.…

Sabtu, 17 Desember 2016 10:12

Bahaya Lidah dan Dosa yang Disebabkannya (1)

Lidah seorang manusia merupakan salah satu anggota badan yang digunakan untuk berbuat maksiat karena…

Jumat, 16 Desember 2016 21:13

Selalu Memperhatikan Urusan Salat

Saudara pembaca yang dirahmati Allah.Rasulullah adalah orang yang selalu memperhatikan urusan salat.…

Kamis, 15 Desember 2016 21:36

Teladan Rasullah Akhlak Bergaul dengan Istri

Saudara pembaca yang dirahmati Allah.Setelah kemarin kita membahas bagaimana akhlak Rasulullah kepada…

Rabu, 14 Desember 2016 00:10

Teladan Rasulullah

Saudara pembaca yang dirahmati Allah SWT. Karena kita berada di bulan maulid, maka beberapa hari ini…

Minggu, 11 Desember 2016 12:45

Berani Melawan Suami

Assalamualaikum guru, saya Anto mau tanya, bagaimana cara menyikapi dan mengarahkan istri yang berani…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .