MANAGED BY:
RABU
21 AGUSTUS
POLITIK | HUKUM | KRIMINAL | KHAZANAH | DAERAH | SEX & KESEHATAN | HANGOUT | EDUKREATIF

DAERAH

Senin, 23 Mei 2016 00:09
Makan Bersama sebagai Bentuk Syukur

Menengok Pesta Adat Tahunan Dayak Kenyah

PROKAL.CO, DIKARAUINAI alam yang subur sebagai tempat bercocok tanam guna menghidupakan keluarga, merupakan anugrah yang tak ternilai bagi warga suku Dayak Kenyah di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu, Kukar. Sebagai bentuk terima kasih, setiap tahun mereka menggelar syukuran pasca panen yang disebut “Uman Undrat” yang artinya makan bersama dengan rasa gembira dan penuh syukur.

Hermansyah, Tenggarong

Sabtu (22/5) lalu, Radar Kaltim berkesempatan berkunjung ke Lamin Adat Dayak Kenyah, Desa Budaya Lung Anai. Dari pusat Kecamatan Tenggarong perjalanan ditempuh sekitar 90 menit. Sebagian jalan masih berupa bebatuan dengan beberapa lembah yang cukup curam. Memasuki lokasi acara, rombongan disambut gapura empat pilar yang terbuat dari ukiran kayu ulin.
Di sepanjang jalan menuju lamin, dihiasai bendara dan hiasa menyerupai bunga warna warni yang terbuat dari kayu yang diserut. Dari kejauhan sudah tergengar lentingan alat musik khas suku dayak.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu, para tokoh masyarakat setempat bersama warga berjajar di sepanjang pintu masuk untuk mengucapkan selamat datang. Hebatnya, hal itu tetap mereka lakukan meskipun di tengah guyuran hujan.
Prosesi acara dimulai dengan tarian selamat datang dan berdoa bersama di dalam lamin. Usai berdoa dilajutkan dengan penyembelihan hewan ternak berupa babi hutan. Hal itu ditujukan sebagai bentuk rasa syukur dan persembahan kepada yang maha kuasa yang telah memberikan keselamatan bagi warga kampung. “Peyembelihan babi itu adalah bentuk korban sebagai rasa syukur kita dan dijauhkan dari berbagai penyakit," ujar Kepala Adat Masyarakat Lung Anai, Ismail Lahang.
Penyembelihan babi dilakukan dengan cara menaruh bagian leher babi pada dua bilah tongkat kayu. Agar babi tidak dapat bergerak, enam orang tokoh adat disiagakan untuk memegangi ekor badan hingga kuping babi. Saat babi sudah tidak dapat bergerak, barulah sang ketua adat menghunuskan mandaunya ke leher babi tersebut.
Darah babi yang mengucur deras ditampung di sebuah baskom untuk kemudian disimpan. Proses penyembelihan babi usai, setelah salah seorang pemuka adat menyatakan babi sudah tidak bernyawa lagi. “Biasanya acara adat ini kita adakan setiap tahun pada bulan empat, tapi bisa juga disesuikan dengan kesepakatan warga dan tokoh adat di sini," tutur Ismail.
Acara dilajutkan dengan prosesi menggotong lesung berbentuk perahu sepanjang lebih dari lima meter. Proses pengangkatan dilakukan secara bersama-sama dari halaman menuju ke dalam lamin. Prosesi ini melambangkan sifat gotong royong dan kekeluarganya warga Dayak Kenyah dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam lamin, lesung digunakan untuk menumbuk beras hasil penanen yang telah dicampur parutan kelapa dan gula untuk dijadikan tepung dan dimakukan ke dalam bambu. Bambu yang sudah terisi kemudian di masak dengan cara di dekatkan para bara api yang sudah dipersiapakan tepat di samping lamin. “Jadi namanya mencaq undrat yakni prosesi menumbuk beras menjadi tepung untuk dimasak di dalam bambu, proses menumbuknya dilakukan secara bersama-sama dengan mengelilingi lesung sebagai tanda kebersamaan warga,” lanjut Ismail.
Setelah matang, makanan khas suku dayak itu disajikan di dalam lamin untuk dimakan bersama-sama seluruh warga dan pengunjung yang hadir. Sembari manikmati makanan, sejumlah tarian dipentaskan seperti Tari Udong Kitaq dan Udoq Kiba, dimana para penarinya menggunakan topeng yang terbuat dari ayaman rotan berbentuk kotak dan topeng yang terbuat dari kayu yang berbentuk wajah.
Ada pula tarian Datun Julut yang dibawaakan kaum wanita dengan menggunakan pakain adat dayak lengkap dengan hiasan bulu enggang. Menjelang penghujung acara, sang ketua adat menampilkan tari perang. Dengan mandau terhunus di tangan kananya dan tameng di lengan kirinya sang ketua adat melakukan gerakan melompat dan berputar layaknya seorang yang sedang berperang. Acara kemudian ditutup berdoa bersama. “Pesta adat uman undrat merupakan kewajiban setiap tahunya bagi kami. Ada sangksi adat bila ada warga kami yang menyendiri pada saat pesta adat, semua harus membaur dan terlibat," tegas Ismail. (*/sal)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 08 Januari 2016 00:25

Astaga, Bukannya Belajar Siswa Ini Malah Bawa Sabu

<p>TENGGARONG. Penangkapan sabu tahun ini oleh Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba)Polres Kukar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*